KabarPenjaringan - Menara Syabandar yang berada di kompleks museum Bahari, Penjaringan,
Jakarta Utara miring sekitar 5 derajat ke arah selatan. Menurut Kepala
Seksi Edukasi dan Pameran Unit Pengelolaan (UP) Museum Bahari Irfal
Guci, menara tersebut dibangun di atas sebuah sungai sehingga membuatnya
miring.
"Menara itu kan dibangun di atas tanah dari aliran
sungai, jadi tidak kuat," katanya kepada KabarPenjaringan, di Menara
Syabandar, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (27/3/2013).
Apalagi,
Irfal mengatakan kalau tepat di sebelah menara tersebut terdapat kali
dan pada tahun sekitar tahun 1980 terjadi pengerukan kali dan berimbas
pada menara tersebut. "Di sebelahnya ada kali Pakin, dan sekitar tahun 80an ada pengerukan kali, mungkin awalnya kemiringan menara terjadi," imbuhnya.
Untuk
mengantisipasi robohnya Menara Syahbandar, Irfal mengatakan pernah
melakukan pemasangan pancangan di menara tersebut. Sementara pada akhir
tahun ini akan dilakukan pemugaran. Untuk melakukan konservasi Menara
Syahbandar, anggaran yang disediakan sebesar Rp 4,5 hingga Rp 5 miliar.
Sementara
itu, jumlah pengunjung yang akan menikmati indahnya pemandangan pesisir
utara Jakarta dari atas menara pun dibatasi. Pengunjung yang
diperbolehkan naik ke atas menara maksimal hanya sepuluh orang.
"Jumlah pengunjung juga dibatasi karena tangga di dalam menara juga sudah lapuk," tandasnya. (tim)
Rabu, 27 Maret 2013
Selasa, 19 Februari 2013
Urus KTP dan KK di Kelurahan Penjaringan Rp 750.000
KabarPenjaringan - Layanan dokumen kependudukan bagi warga Penjaringan yang hendak pindah ke Rumah Susun (Rusun) kembali diaromai bau tak sedap. Banyaknya
permintaan pengurusan KTP dan Kartu Keluarga (KK) dimanfaatkan oknum
tertentu untuk mengeruk keuntungan dari proses tersebut.
"Urus KTP dan KK sekarang mahal. Tadi, ada warga yang dimintai Rp 750.000 untuk buat satu KTP dan KK," kata Ahmad, warga RT 16 RW 17, Penjaringan, Jakarta Utara, saat ditemui KabarPenjaringan, Selasa (19/2/2013).
Karena alasan keamanan diri, Ahmad hanya mengungkapkan bahwa oknum yang meminta uang dalam jumlah besar itu berasal dari petugas RT/RW setempat. Keterangan Ahmad dibenarkan warga lainnya, Izul.
Warga RW 17 Muarabaru ini menerangkan, seorang rekannya yang telah pindah ke Rusun Marunda dan kembali untuk mengurus kartu keluarga juga dimintai pungutan dalam jumlah serupa. "Teman saya Si Gondrong diminta untuk sediakan uang Rp 750.000. Ini lagi jadi perbincangan warga sini," kata Izul.
Warga yang bermukim di pinggiran Waduk Pluit itu mengutarakan, menurut alasan yang dikemukakan oknum tersebut, biaya tambahan dikenakan karena banyaknya warga yang saat ini meminta pemrosesan KTP dan KK.
"Katanya sekarang ini pemintaan lagi membludak. Umumnya warga disini punya KTP, tapi kebanyakan belum punya KK," lanjut Izul. Ia menjelaskan, permintaan pengurusan dokumen kependudukan tidak hanya datang dari warga yang akan pindah ke Marunda. Sejumlah warga yang saat ini telah menghuni Rusun Marunda pun masih belum dilengkapi dokumen yang disyaratkan pemerintah.
Mereka yang masuk rombongan pertama warga waduk Pluit yang pindah ke Marunda, menurut Izul, adalah perintis yang diajak pemerintah untuk membuka jalan bagi warga lainnya.
"Waktu itu syarat-syarat belum lengkap, asal mau pindah, pasti dikasih kesempatan. Nah, sekarang ini mereka juga diminta melengkapi dokumen, makanya banyak yang balik kesini buat ngurus KK," terang Izul.
Sebagaimana Ahmad, Izul pun tidak ingin mengungkapkan secara gamblang identitas oknum yang dimaksud. Ia beralasan, keterangannya bisa memicu keretakan hubungan dengan oknum tersebut yang tak lain sesama warga disekitar Waduk Pluit. (tim)
"Urus KTP dan KK sekarang mahal. Tadi, ada warga yang dimintai Rp 750.000 untuk buat satu KTP dan KK," kata Ahmad, warga RT 16 RW 17, Penjaringan, Jakarta Utara, saat ditemui KabarPenjaringan, Selasa (19/2/2013).
Karena alasan keamanan diri, Ahmad hanya mengungkapkan bahwa oknum yang meminta uang dalam jumlah besar itu berasal dari petugas RT/RW setempat. Keterangan Ahmad dibenarkan warga lainnya, Izul.
Warga RW 17 Muarabaru ini menerangkan, seorang rekannya yang telah pindah ke Rusun Marunda dan kembali untuk mengurus kartu keluarga juga dimintai pungutan dalam jumlah serupa. "Teman saya Si Gondrong diminta untuk sediakan uang Rp 750.000. Ini lagi jadi perbincangan warga sini," kata Izul.
Warga yang bermukim di pinggiran Waduk Pluit itu mengutarakan, menurut alasan yang dikemukakan oknum tersebut, biaya tambahan dikenakan karena banyaknya warga yang saat ini meminta pemrosesan KTP dan KK.
"Katanya sekarang ini pemintaan lagi membludak. Umumnya warga disini punya KTP, tapi kebanyakan belum punya KK," lanjut Izul. Ia menjelaskan, permintaan pengurusan dokumen kependudukan tidak hanya datang dari warga yang akan pindah ke Marunda. Sejumlah warga yang saat ini telah menghuni Rusun Marunda pun masih belum dilengkapi dokumen yang disyaratkan pemerintah.
Mereka yang masuk rombongan pertama warga waduk Pluit yang pindah ke Marunda, menurut Izul, adalah perintis yang diajak pemerintah untuk membuka jalan bagi warga lainnya.
"Waktu itu syarat-syarat belum lengkap, asal mau pindah, pasti dikasih kesempatan. Nah, sekarang ini mereka juga diminta melengkapi dokumen, makanya banyak yang balik kesini buat ngurus KK," terang Izul.
Sebagaimana Ahmad, Izul pun tidak ingin mengungkapkan secara gamblang identitas oknum yang dimaksud. Ia beralasan, keterangannya bisa memicu keretakan hubungan dengan oknum tersebut yang tak lain sesama warga disekitar Waduk Pluit. (tim)
Senin, 18 Februari 2013
Tinjau Kali Pakin Penjaringan, Jokowi Bagikan Tas & Buku
KabarPenjaringan - Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) memulai
blusukan meninjau pengerukan Kali Pakin Penjaringan, Jakarta Utara. Ia juga
membagikan buku dan tas kepada anak-anak SD.
Jokowi yang mengenakan kemeja warna putih ini tiba di bantaran Kali Pakin, Penjaringan, Jakarta Utara, tak jauh dari Waduk Pluit, Senin (18/2) sekitar pukul 14.45 WIB. Ia menggunakan Kijang Innova warna hitam.
Suami Iriana ini langsung turun ke pinggiran memantau pengerukan yang dilakukan oleh 2 eskavator. 1 Eskavator lainnya merapikan sisa-sisa pengerukan.
Sarjana Kehutanan UGM ini memberikan arahan dan melihat lembaran gambar-gambar proses pengerjaan pengerukan kali. Kali itu berwarna hitam dan dihiasi hamparan sampah.
Jokowi kemudian membagikan buku-buku, alat tulis dan tas kepada puluhan anak-anak SD. "Antre yang rapi dan baris satu-satu," kata seorang petugas menertibkan siswa siswi berseragam putih dan merah itu. (tim)
Jokowi yang mengenakan kemeja warna putih ini tiba di bantaran Kali Pakin, Penjaringan, Jakarta Utara, tak jauh dari Waduk Pluit, Senin (18/2) sekitar pukul 14.45 WIB. Ia menggunakan Kijang Innova warna hitam.
Suami Iriana ini langsung turun ke pinggiran memantau pengerukan yang dilakukan oleh 2 eskavator. 1 Eskavator lainnya merapikan sisa-sisa pengerukan.
Sarjana Kehutanan UGM ini memberikan arahan dan melihat lembaran gambar-gambar proses pengerjaan pengerukan kali. Kali itu berwarna hitam dan dihiasi hamparan sampah.
Jokowi kemudian membagikan buku-buku, alat tulis dan tas kepada puluhan anak-anak SD. "Antre yang rapi dan baris satu-satu," kata seorang petugas menertibkan siswa siswi berseragam putih dan merah itu. (tim)
Jokowi Tinjau Pengerukan Kali Pakin Penjaringan
KabarPenjaringan - Gubernur DKI
Jakarta Joko Widodo Senin (18/2) siang meninjau pengerukan kali Pakin Kelurahan
Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.
Menurutnya, pengerukan kali yang langsung terhubung ke Waduk Pluit tersebut bertujuan sebagai percontohan. "Ini untuk percontohan kali yang baik, yang bersih, yang benar itu seperti apa," kata gubernur yang akrab disapa Jokowi.
"Sebelum dikeruk, kedalam kali ini hanya setengah meter. Mau dibuat dalamnya sampai lima meter," katanya.
Karena masih percontohan, dana untuk melakukan pengerukan ini masih menggunakan bantuan dari pihak swasta dalam bentuk Corporate Social Responsibility (CSR). "Kan APBD juga belum diketok," jelasnya.
Selanjutnya, Jokowi berharap bahwa pengerukan akan dilakukan di empat titik yakni Pesanggrahan, Angke, Sunter serta Sungai Ciliwung. "Nanti tunggu APBD dulu, langsung dikeruk. Ini untuk contoh saja dulu," ujarnya.
Jokowi juga meyakinkan bahwa dia sudah melakukan sosialisasi terhadap rumah-rumah yang sebelumnya berada di pinggiran kali. "Sudah disosialisasikan. Banyak yang minta ke rusun, ya ndak apa-apa," katanya.
Usai meninjau Kali Pakin, Jokowi menyeberangi jalan untuk melihat proses awal normalisasi Waduk Pluit. (tim)
Menurutnya, pengerukan kali yang langsung terhubung ke Waduk Pluit tersebut bertujuan sebagai percontohan. "Ini untuk percontohan kali yang baik, yang bersih, yang benar itu seperti apa," kata gubernur yang akrab disapa Jokowi.
"Sebelum dikeruk, kedalam kali ini hanya setengah meter. Mau dibuat dalamnya sampai lima meter," katanya.
Karena masih percontohan, dana untuk melakukan pengerukan ini masih menggunakan bantuan dari pihak swasta dalam bentuk Corporate Social Responsibility (CSR). "Kan APBD juga belum diketok," jelasnya.
Selanjutnya, Jokowi berharap bahwa pengerukan akan dilakukan di empat titik yakni Pesanggrahan, Angke, Sunter serta Sungai Ciliwung. "Nanti tunggu APBD dulu, langsung dikeruk. Ini untuk contoh saja dulu," ujarnya.
Jokowi juga meyakinkan bahwa dia sudah melakukan sosialisasi terhadap rumah-rumah yang sebelumnya berada di pinggiran kali. "Sudah disosialisasikan. Banyak yang minta ke rusun, ya ndak apa-apa," katanya.
Usai meninjau Kali Pakin, Jokowi menyeberangi jalan untuk melihat proses awal normalisasi Waduk Pluit. (tim)
Jumat, 19 Oktober 2012
Penyebab Kematian Abdul Jalil Simpang Siur
KabarPenjaringan - Terpidana kasus pembunuhan siswa berprestasi pemenang olimpiade
matematika Singapura, Christopher Melky Tanujaya yang terjadi Desember
tahun lalu, Abdul Jalil, 24, tewas dalam masa tahanan 10 tahun penjara.
Pihak keluarga menduga Abdul tewas karena penyiksaan.
Setelah sebelumnya diduga menjadi korban salah tangkap, Abdul dijatuhi vonis 10 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada 16 Agustus tahun ini. Selang dua bulan, pihak keluarga mendapatkan kabar bahwa Abdul tewas akibat sakit.
"Selasa malam keluarga dikabari Abdul tewas, tapi simpang siur. Ada kabar dia tewas di tahanan, ada pula yang bilang dia sempat dirawat di RS Polri selama empat hari. Keluarga tidak dapat informasi yang jelas," ujar tetangga yang dekat dengan pihak keluarga, Jonathan kepada KabarPenjaringan, Jumat (19/10) petang.
Berdasarkan keterangan pihak keluarga, ujarnya, pada jenazah Abdul terdapat sejumlah lebam kehitaman. Menurutnya, seharusnya dilakukan Autopsi terhadap jenazah Abdul agar penyebab kematiannya dapat diketahui dengan pasti.
"Sampai sekarang pun sakit yang dikatakan pihak lapas kepada keluarga masih simpang siur. Padahal sekarang ini masih proses mau banding karena keluarga masih tidak percaya Abdul melakukan pembunuhan," tegasnya. Jenazah Abdul dimakamkan di Pemakaman Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten pada Rabu pagi.
Abdul ditangkap pada Kamis 8 Desember 2012 atas kasus penusukan bermotif perampokan blackberry di Pluit Selatan Penjaringan, Jakarta Utara pada 5 Desember 2011 yang menewaskan Christopher Melky Tanujaya, 16, warga Perumahan Taman Grisenda, Kapuk Muara, Penjaringan, Jakarta Utara.
Dalam sejumlah persidangan, Abdul mengaku telah dipaksa mengakui pembunuhan yang tak dilakukannya oleh tim buser Polsek Metro Penjaringan, karena disiksa dan diiming-imingi akan diberi pekerjaan. (tim)
Setelah sebelumnya diduga menjadi korban salah tangkap, Abdul dijatuhi vonis 10 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada 16 Agustus tahun ini. Selang dua bulan, pihak keluarga mendapatkan kabar bahwa Abdul tewas akibat sakit.
"Selasa malam keluarga dikabari Abdul tewas, tapi simpang siur. Ada kabar dia tewas di tahanan, ada pula yang bilang dia sempat dirawat di RS Polri selama empat hari. Keluarga tidak dapat informasi yang jelas," ujar tetangga yang dekat dengan pihak keluarga, Jonathan kepada KabarPenjaringan, Jumat (19/10) petang.
Berdasarkan keterangan pihak keluarga, ujarnya, pada jenazah Abdul terdapat sejumlah lebam kehitaman. Menurutnya, seharusnya dilakukan Autopsi terhadap jenazah Abdul agar penyebab kematiannya dapat diketahui dengan pasti.
"Sampai sekarang pun sakit yang dikatakan pihak lapas kepada keluarga masih simpang siur. Padahal sekarang ini masih proses mau banding karena keluarga masih tidak percaya Abdul melakukan pembunuhan," tegasnya. Jenazah Abdul dimakamkan di Pemakaman Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten pada Rabu pagi.
Abdul ditangkap pada Kamis 8 Desember 2012 atas kasus penusukan bermotif perampokan blackberry di Pluit Selatan Penjaringan, Jakarta Utara pada 5 Desember 2011 yang menewaskan Christopher Melky Tanujaya, 16, warga Perumahan Taman Grisenda, Kapuk Muara, Penjaringan, Jakarta Utara.
Dalam sejumlah persidangan, Abdul mengaku telah dipaksa mengakui pembunuhan yang tak dilakukannya oleh tim buser Polsek Metro Penjaringan, karena disiksa dan diiming-imingi akan diberi pekerjaan. (tim)
Diduga Disiksa, Seorang Tahanan Meninggal Dunia
KabarPenjaringan - Rumah keluarga pasangan suami istri Nasir, 41, dan Rasyini, 41, tampak
tidak seperti biasanya. Kedua pasangan itu memang tengah dirundung duka.
Maklum, putra sulung mereka, Abdul Jalil, 24, baru saja meninggalkan
keduanya untuk selamanya.
Karena itu, di depan rumah yang berlokasi di Gang Wira Bumi, Jalan Bhakti, Penjaringan, Jakarta Utara, itu berjejer kursi dan meja plastik warna biru. Sedangkan di bagian dalam rumah, di ruang tamu tersedia minuman kemasan botol dan gelas serta beberapa jenis cemilan dan kue.
Sebagai informasi, Abdul Jalil adalah terpidana kasus pembunuhan siswa berprestasi pemenang olimpiade matematika Singapura, Christopher Melky Tanujaya yang terjadi Desember tahun lalu. Abdul Jalil dijatuhi hukuman 10 tahun penjara dalam sidang vonis di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, (16/8).
Sepanjang persidangan, Abdul Jalil alias Adul alias Ayub meminta keadilan berpihak padanya karena ia merasa telah dipaksa untuk mengakui pembunuhan yang tidak dilakukannya. Kuasa hukum terdakwa, Supandi, menyatakan banding atas keputusan pengadilan tersebut.
Sidang kasus pembunuhan yang telah menuai sejumlah protes dari ratusan warga Gang Wira Bumi, Jalan Bhakti, Penjaringan, Jakarta Utara. Putra sulung dari pasangan Nasir dan Rasyini tersebut hanya tertunduk lesu ketika majelis hakim memutuskan hukuman 10 tahun penjara baginya atas kasus penusukan yang berujung kematian Christopher.
“Maaf sekali, ya, kami sedang berduka. Kami merelakan almarhum, semoga diterima disisi-Nya,” ungkap Nasir sembari menyalami awak KabarPenjaringan, Jumat (19/10) petang. Air mata Nasir tak hentinya bercucuran.
Karena kelelahan, Nasir meminta maaf karena tidak bisa berbagi duka atau cerita sepenuhnya. Namun, Ati, 31, tetangga keluarga tersebut yang selalu mengikuti setiap perkembangan kasus Abdul lewat persidangan pun berbagi cerita. Perempuan yang kenal dekat dengan almarhum bertutur kalau pada Selasa malam (16/10), dua orang polisi berpakaian preman mendatangi rumah Nasir.
Kedua orang polisi itu lalu dipertemukan dengan bibi almarhum, Nunung. Kepada Nunung itulah diberitahukan kalau Abdul sudah meninggal dunia. Nasir pun mengambil jenazah anaknya ke rumah sakit dan tiba di rumah, tengah malam.
Menurut Ati, seperti yang diceritakan kedua petugas itu, Abdul sudah menderita sakit (dikatakan sakit TBC) sedari Sabtu (13/10) dan dirawat di Rumah Sakit Kramat Jati. “Kalau sudah sakit dari Sabtu, kenapa baru ngasih tau kami pas sudah meninggal,” ungkap Ati dengan nada kesal. “Dan, masa iya sih kalau karena TBC bisa meninggal dalam keadaan lebam di mana-mana,” imbuhnya.
Ati yang melihat langsung jenazah korban pun menangkap kejanggalan atas kematian orang yang dikenalnya sedari kecil itu. Pasalnya di beberapa bagian tubuh Abdul terlihat membiru dan kehitam-hitaman seperti pada pinggang, pundak, pantat, dan telapak kaki. "Kayak ditonjok dan dipukul dia selama di penjara," ujar Ati.
Kejanggalan lainnya, ketika diambil di kamar jenazah, Abdul dalam kedaan dibekukan atau dimasukkan ke dalam kotak pendingin. “Masa orang baru meninggal sudah beku. Ya, kan nggak harus dibeku-bekukan segala. Kayak sudah meninggal lama aja,” kata Ati dengan nada meninggi.
Memang setelah resmi divonis 10 tahun penjara di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, 16 Agustus silam, pihak keluarga tidak pernah menjenguk Abdul ke Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Pasalnya, almarhum sendiri meminta keluarga untuk tidak dijenguk dengan alasan tidak mau merepotkan. Maklum, sang ibu sedang menderita sakit stroke. "(Abdul) enggak mau ditengokin karena tidak mau nyusahin keluarga,” tutur Ati.
Sebelum resmi divonis, Ati memang pernah sesumbar menanyakan kepada almarhum apakah mendapatkan perlakukan tidak baik seperti penyiksaan fisik. Kepada Ati, almarhum mengaku tidak pernah disiksa. “Tapi kan itu kan itu sebelum divonis, wajarlah orang masih proses ini. Nah, kita kan enggak tahu tuh setelah divonisnya bagaimana Abdul di dalam penjara,” katanya.
Almarhum yang dikenal sebagai orang yang baik hati dan tidak suka macam-macam dalam kesehariannya itu sudah dimakamkan. Berangkat sekitar pukul 09.00 WIB pagi dari rumah duka, almarhum selesai disemayamkan sekitar pukul 10.00 WIB di Pemakaman Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten. Ditanya apakah pihak keluarga ada mendapat santunan kematian, Ati menyatakan, "Pulang-pulang jasadnya doang, untung enggak hancur (badannya). Boro-boro mau ngasih santunan. Jenazah almarhum juga kita ambil sendiri, mobil sendiri."
Menurut Ati, proses hukum Abdul sedang dalam pengajuan banding untuk merespon vonis yang dijatuhkan kepada Abdul. “(Menurut pengacara) kita sedang mau naik banding. Rencananya itu, antara tanggal 22 atau 23 Oktober kita bandingnya,” jelas Ati. (tim)
Karena itu, di depan rumah yang berlokasi di Gang Wira Bumi, Jalan Bhakti, Penjaringan, Jakarta Utara, itu berjejer kursi dan meja plastik warna biru. Sedangkan di bagian dalam rumah, di ruang tamu tersedia minuman kemasan botol dan gelas serta beberapa jenis cemilan dan kue.
Sebagai informasi, Abdul Jalil adalah terpidana kasus pembunuhan siswa berprestasi pemenang olimpiade matematika Singapura, Christopher Melky Tanujaya yang terjadi Desember tahun lalu. Abdul Jalil dijatuhi hukuman 10 tahun penjara dalam sidang vonis di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, (16/8).
Sepanjang persidangan, Abdul Jalil alias Adul alias Ayub meminta keadilan berpihak padanya karena ia merasa telah dipaksa untuk mengakui pembunuhan yang tidak dilakukannya. Kuasa hukum terdakwa, Supandi, menyatakan banding atas keputusan pengadilan tersebut.
Sidang kasus pembunuhan yang telah menuai sejumlah protes dari ratusan warga Gang Wira Bumi, Jalan Bhakti, Penjaringan, Jakarta Utara. Putra sulung dari pasangan Nasir dan Rasyini tersebut hanya tertunduk lesu ketika majelis hakim memutuskan hukuman 10 tahun penjara baginya atas kasus penusukan yang berujung kematian Christopher.
“Maaf sekali, ya, kami sedang berduka. Kami merelakan almarhum, semoga diterima disisi-Nya,” ungkap Nasir sembari menyalami awak KabarPenjaringan, Jumat (19/10) petang. Air mata Nasir tak hentinya bercucuran.
Karena kelelahan, Nasir meminta maaf karena tidak bisa berbagi duka atau cerita sepenuhnya. Namun, Ati, 31, tetangga keluarga tersebut yang selalu mengikuti setiap perkembangan kasus Abdul lewat persidangan pun berbagi cerita. Perempuan yang kenal dekat dengan almarhum bertutur kalau pada Selasa malam (16/10), dua orang polisi berpakaian preman mendatangi rumah Nasir.
Kedua orang polisi itu lalu dipertemukan dengan bibi almarhum, Nunung. Kepada Nunung itulah diberitahukan kalau Abdul sudah meninggal dunia. Nasir pun mengambil jenazah anaknya ke rumah sakit dan tiba di rumah, tengah malam.
Menurut Ati, seperti yang diceritakan kedua petugas itu, Abdul sudah menderita sakit (dikatakan sakit TBC) sedari Sabtu (13/10) dan dirawat di Rumah Sakit Kramat Jati. “Kalau sudah sakit dari Sabtu, kenapa baru ngasih tau kami pas sudah meninggal,” ungkap Ati dengan nada kesal. “Dan, masa iya sih kalau karena TBC bisa meninggal dalam keadaan lebam di mana-mana,” imbuhnya.
Ati yang melihat langsung jenazah korban pun menangkap kejanggalan atas kematian orang yang dikenalnya sedari kecil itu. Pasalnya di beberapa bagian tubuh Abdul terlihat membiru dan kehitam-hitaman seperti pada pinggang, pundak, pantat, dan telapak kaki. "Kayak ditonjok dan dipukul dia selama di penjara," ujar Ati.
Kejanggalan lainnya, ketika diambil di kamar jenazah, Abdul dalam kedaan dibekukan atau dimasukkan ke dalam kotak pendingin. “Masa orang baru meninggal sudah beku. Ya, kan nggak harus dibeku-bekukan segala. Kayak sudah meninggal lama aja,” kata Ati dengan nada meninggi.
Memang setelah resmi divonis 10 tahun penjara di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, 16 Agustus silam, pihak keluarga tidak pernah menjenguk Abdul ke Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Pasalnya, almarhum sendiri meminta keluarga untuk tidak dijenguk dengan alasan tidak mau merepotkan. Maklum, sang ibu sedang menderita sakit stroke. "(Abdul) enggak mau ditengokin karena tidak mau nyusahin keluarga,” tutur Ati.
Sebelum resmi divonis, Ati memang pernah sesumbar menanyakan kepada almarhum apakah mendapatkan perlakukan tidak baik seperti penyiksaan fisik. Kepada Ati, almarhum mengaku tidak pernah disiksa. “Tapi kan itu kan itu sebelum divonis, wajarlah orang masih proses ini. Nah, kita kan enggak tahu tuh setelah divonisnya bagaimana Abdul di dalam penjara,” katanya.
Almarhum yang dikenal sebagai orang yang baik hati dan tidak suka macam-macam dalam kesehariannya itu sudah dimakamkan. Berangkat sekitar pukul 09.00 WIB pagi dari rumah duka, almarhum selesai disemayamkan sekitar pukul 10.00 WIB di Pemakaman Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten. Ditanya apakah pihak keluarga ada mendapat santunan kematian, Ati menyatakan, "Pulang-pulang jasadnya doang, untung enggak hancur (badannya). Boro-boro mau ngasih santunan. Jenazah almarhum juga kita ambil sendiri, mobil sendiri."
Menurut Ati, proses hukum Abdul sedang dalam pengajuan banding untuk merespon vonis yang dijatuhkan kepada Abdul. “(Menurut pengacara) kita sedang mau naik banding. Rencananya itu, antara tanggal 22 atau 23 Oktober kita bandingnya,” jelas Ati. (tim)
Keluarga Tidak Percaya AJ Meninggal Karena HIV Seperti Diberitakan Kompascom
KabarPenjaringan - Warga Lapas Cipinang yang meninggal di dalam tahanannya, AJ, dinyatakan
meninggal karena virus HIV. Namun pihak keluarga AJ tidak percaya,
mereka menduga adanya penyiksaan terhadap AJ.
"Dari keluarganya, jenazah AJ ada lebam kehitaman di badannya. Seharusnya dilakukan autopsi jenazah supaya tahu penyebabnya," kata tetangga dekat AJ, Jonathan, saat dihubungi KabarPenjaringan, Jumat (19/10/2012) petang.
Jonathan menjelaskan keluarga mengetahui AJ meninggal pada Selasa (16/10) tanpa adanya informasi yang jelas. AJ sendiri baru menjalani masa tahanannya selama 2 bulan dari 10 tahun yang harus dijalani.
"Selasa malam keluarga dikabari AJ tewas, tapi simpang siur. Ada kabar dia tewas di tahanan, ada pula yang bilang dia sempat dirawat di RS Polri selama empat hari. Keluarga tidak dapat informasi yang yang jelas," ujar Jonathan.
Pihak keluarga diketahui Jonathan masih belum mendapatkan keterangan jelas penyebab kematian AJ. Padahal keluarga AJ akan melakukan banding atas vonis yang dijatuhkan hakim pada tanggal 16 Agustus 2012 lalu.
"Sampai sekarang pun sakit yang dikatakan pihak lapas kepada keluarga masih simpang siur. Padahal sekarang ini masih proses mau banding karena keluarga masih tidak percaya AJ melakukan pembunuhan," ujar Jonathan.
Jenazah AJ telah dimakamkan di pemakaman Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten pada Rabu pagi. AJ sendiri adalah tahanan atas kasus pembunuhan siswa pemenang medali emas olimpiade matematika, Christopher Melky Tanujaya, pada Desember 2011.
Kabar meninggalnya AJ diperoleh dari keterangan Kasubdit Komunikasi Ditjen PAS AKbar Hadi. Akbar menjelaskan, sebelum meninggal, AJ sempat dirawat di poliklinik Rutan Cipinang. "Iya benar, kemarin (16/10) siang sekitar pukul 14.00 memang ada warga binaan penjara bernama AJ meninggal dunia di RS Kramatjati Polri," ujar Kasubdit Komunikasi Ditjen PAS Akbar Hadi dalam pesan singkat yang diterima KabarPenjaringan, Rabu (17/10/2012). (tim)
"Dari keluarganya, jenazah AJ ada lebam kehitaman di badannya. Seharusnya dilakukan autopsi jenazah supaya tahu penyebabnya," kata tetangga dekat AJ, Jonathan, saat dihubungi KabarPenjaringan, Jumat (19/10/2012) petang.
Jonathan menjelaskan keluarga mengetahui AJ meninggal pada Selasa (16/10) tanpa adanya informasi yang jelas. AJ sendiri baru menjalani masa tahanannya selama 2 bulan dari 10 tahun yang harus dijalani.
"Selasa malam keluarga dikabari AJ tewas, tapi simpang siur. Ada kabar dia tewas di tahanan, ada pula yang bilang dia sempat dirawat di RS Polri selama empat hari. Keluarga tidak dapat informasi yang yang jelas," ujar Jonathan.
Pihak keluarga diketahui Jonathan masih belum mendapatkan keterangan jelas penyebab kematian AJ. Padahal keluarga AJ akan melakukan banding atas vonis yang dijatuhkan hakim pada tanggal 16 Agustus 2012 lalu.
"Sampai sekarang pun sakit yang dikatakan pihak lapas kepada keluarga masih simpang siur. Padahal sekarang ini masih proses mau banding karena keluarga masih tidak percaya AJ melakukan pembunuhan," ujar Jonathan.
Jenazah AJ telah dimakamkan di pemakaman Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten pada Rabu pagi. AJ sendiri adalah tahanan atas kasus pembunuhan siswa pemenang medali emas olimpiade matematika, Christopher Melky Tanujaya, pada Desember 2011.
Kabar meninggalnya AJ diperoleh dari keterangan Kasubdit Komunikasi Ditjen PAS AKbar Hadi. Akbar menjelaskan, sebelum meninggal, AJ sempat dirawat di poliklinik Rutan Cipinang. "Iya benar, kemarin (16/10) siang sekitar pukul 14.00 memang ada warga binaan penjara bernama AJ meninggal dunia di RS Kramatjati Polri," ujar Kasubdit Komunikasi Ditjen PAS Akbar Hadi dalam pesan singkat yang diterima KabarPenjaringan, Rabu (17/10/2012). (tim)
Senin, 11 Juni 2012
3 Bocah Warga Penjaringan Menderita Gizi Buruk
KabarPenjaringan - Tiga bocah Halimah Hasifa ,4 tahun, Noval Afif ,7 tahun, dan Waidah ,9 tahun, warga Jl
Ekor Kuning RT 002/004, Kel. Penjaringan, Kec. Penjaringan, Jakarta Utara menderita
gizi buruk. Karena kondisi ekonomi orang tua ketiga bocah itu tak
mampu dan mereka kini hanya dirawat alakadarnya di rumah. Bila sakit
mereka hanya menjalani pengobatan alternatif maupun di puskesmas
terdekat.
Uum Cahriyah, 38 tahun, ibu dari Halimah Hasifah ketika ditemui di rumahnya, anak ketujuh dari delapan bersaudara tersebut, sebelumnya lahir secara normal dengan berat badan 3,2 kilogram. Namun, pada saat usia 40 hari di Puskesmas Penjaringan, Halimah tidak bisa diimunisasi lantaran berat menurun hingga 2,3 kilogram. Meski begitu anak tersebut mendapat pengobatan jalan selama 4 bulan di puskesmas.
“Meski sudah saya lakukan pengobatan jalan, namun anak saya tidak ada perubahan. Maka dari itu saya rujuk ke RS Tarakan, Jakarta Pusat selama 1 minggu. Disitu katanya gizi buruk,” kata Uum, ketika ditemui KabarPenjaringan dikediamannya, Senin (11/6) siang.
Diakui oleh Uum, saat Halimah dilahirkan terdapat semacam benjolan di leher bagian belakang dan berisi cairan. Namun, penyakit itu sembuh sendiri setelah dibalur-balur dengan ludahnya. “Setiap bulan Halimah rata-rata 3 kali berobat ke puskesmas dengan biaya Rp 2.000. Tapi, kalau Halimah sesak nafas dan batuk langsung berobat dirumah sakit dengan biaya Rp 100 ribu,” ujarnya.
Diakui oleh Uum, sebenarnya pada Senin (4/6) lalu, dirinya ke RSCM untuk CT Scan, tapi sesampainya disana tidak jadi karena harus membayar sebesar Rp 1,6 juta.
"Karena biaya terlalu tinggi makanya saya konsultasi saja dengan harapan mendapat keringanan biaya. Saya disarankan membuat SKTM bahkan saya diberi surat pengantar dari RSCM untuk membuatnya. Tapi, saya ke sana lagi dan memakai SKTP tetap ditolak dengan alasan Scan tetap harus bayar,” keluhnya.
Uum menjelaskan, Halimah merupakan anaknya dengan suami Sukatma, 53 tahun. Dirinya dengan suami sekarang ini hanya nikah sirih, sehingga tidak tercatat di KUA dan tidak ada surat nikah. Padahal, untuk mendapat SKTM penting terutama untuk berobat anaknya Halimah. “Tapi saat mengurusi surat itu banyak dibantu petugas sehingga saat ini saya hanya tinggal menunggu saja,” ucapnya.
Sementara itu dua bocah lainnya yang juga menderita gizi buruk diketahui bernama Waidah dan Noval Afif. “Disini ada 3 bocah yang diduga menderita gizi buruk. Selama ini kami hanya membantu mengurus membuat SKTM dan ke puskesmas,” kata Gunawan ,40 tahun, Anggota Linmas RW 04. (tim)
Uum Cahriyah, 38 tahun, ibu dari Halimah Hasifah ketika ditemui di rumahnya, anak ketujuh dari delapan bersaudara tersebut, sebelumnya lahir secara normal dengan berat badan 3,2 kilogram. Namun, pada saat usia 40 hari di Puskesmas Penjaringan, Halimah tidak bisa diimunisasi lantaran berat menurun hingga 2,3 kilogram. Meski begitu anak tersebut mendapat pengobatan jalan selama 4 bulan di puskesmas.
“Meski sudah saya lakukan pengobatan jalan, namun anak saya tidak ada perubahan. Maka dari itu saya rujuk ke RS Tarakan, Jakarta Pusat selama 1 minggu. Disitu katanya gizi buruk,” kata Uum, ketika ditemui KabarPenjaringan dikediamannya, Senin (11/6) siang.
Diakui oleh Uum, saat Halimah dilahirkan terdapat semacam benjolan di leher bagian belakang dan berisi cairan. Namun, penyakit itu sembuh sendiri setelah dibalur-balur dengan ludahnya. “Setiap bulan Halimah rata-rata 3 kali berobat ke puskesmas dengan biaya Rp 2.000. Tapi, kalau Halimah sesak nafas dan batuk langsung berobat dirumah sakit dengan biaya Rp 100 ribu,” ujarnya.
Diakui oleh Uum, sebenarnya pada Senin (4/6) lalu, dirinya ke RSCM untuk CT Scan, tapi sesampainya disana tidak jadi karena harus membayar sebesar Rp 1,6 juta.
"Karena biaya terlalu tinggi makanya saya konsultasi saja dengan harapan mendapat keringanan biaya. Saya disarankan membuat SKTM bahkan saya diberi surat pengantar dari RSCM untuk membuatnya. Tapi, saya ke sana lagi dan memakai SKTP tetap ditolak dengan alasan Scan tetap harus bayar,” keluhnya.
Uum menjelaskan, Halimah merupakan anaknya dengan suami Sukatma, 53 tahun. Dirinya dengan suami sekarang ini hanya nikah sirih, sehingga tidak tercatat di KUA dan tidak ada surat nikah. Padahal, untuk mendapat SKTM penting terutama untuk berobat anaknya Halimah. “Tapi saat mengurusi surat itu banyak dibantu petugas sehingga saat ini saya hanya tinggal menunggu saja,” ucapnya.
Sementara itu dua bocah lainnya yang juga menderita gizi buruk diketahui bernama Waidah dan Noval Afif. “Disini ada 3 bocah yang diduga menderita gizi buruk. Selama ini kami hanya membantu mengurus membuat SKTM dan ke puskesmas,” kata Gunawan ,40 tahun, Anggota Linmas RW 04. (tim)
Kamis, 31 Mei 2012
5 Jam Api Baru Padam, Pemilik Gudang di Muara Karang Rugi Ratusan Juta Rupiah
KabarPenjaringan - Kebakaran yang terjadi di kompleks Pergudangan Muara Karang, Jakarta
Utara, akhirnya bisa dipadamkan. Petugas berhasil memadamkan api setelah
lima jam berjibaku dengan si jago merah. Kerugian akibat kebakaran itu
ditaksir ratusan juta rupiah.
"Ini baru saja selesai, kerugian menurut penjaga gudang sampai ratusan juta," ujar Kasi Ops Damkar Jakarta Utara Nurdin Silalahi, saat dihubungi KabarPenjaringan pukul 21.35, Kamis, (31/5/12) malam.
Menurutnya, kebakaran yang terjadi sejak pukul 16.30 WIB itu baru bisa dipadamkan setelah 21 unit pemadam kebakaran diturunkan. Diantaranya, 14 mobil pemadam kebakaran dari Dinas Jakarta Utara, 2 mobil damkar dari Jakarta Barat, dan 5 dari dinas lainnya.
"Alhamdulillah aman, tidak ada korban," ucapnya saat ditanya adanya korban jiwa akibat peristiwa itu.
Ia juga menjelaskan bahwa lamanya proses pemadaman dikarenakan barang-barang di dalam gudang terbuat dari besi dan karet. Gudang seluas 20x40 meter itu menyimpan barang-barang rongsokan dari kontainer. "Kesulitannya karena isi gudang besi-besi dan ban-ban besar truk," kata Nurdin. (tim)
"Ini baru saja selesai, kerugian menurut penjaga gudang sampai ratusan juta," ujar Kasi Ops Damkar Jakarta Utara Nurdin Silalahi, saat dihubungi KabarPenjaringan pukul 21.35, Kamis, (31/5/12) malam.
Menurutnya, kebakaran yang terjadi sejak pukul 16.30 WIB itu baru bisa dipadamkan setelah 21 unit pemadam kebakaran diturunkan. Diantaranya, 14 mobil pemadam kebakaran dari Dinas Jakarta Utara, 2 mobil damkar dari Jakarta Barat, dan 5 dari dinas lainnya.
"Alhamdulillah aman, tidak ada korban," ucapnya saat ditanya adanya korban jiwa akibat peristiwa itu.
Ia juga menjelaskan bahwa lamanya proses pemadaman dikarenakan barang-barang di dalam gudang terbuat dari besi dan karet. Gudang seluas 20x40 meter itu menyimpan barang-barang rongsokan dari kontainer. "Kesulitannya karena isi gudang besi-besi dan ban-ban besar truk," kata Nurdin. (tim)
Terhalang Tembok Tinggi, Petugas Pemadam Kesulitan Jinakkan Api di Muara Karang
KabarPenjaringan - Gudang di kompleks Pergudangan Muara Karang, Jakarta
Utara, terbakar sejak sore tadi. Petugas kesulitan memadamkan api karena
gudang tersebut dikelilingi tembok tinggi.
Kasi Ops Damkar Jakarta Utara Nurdin Silalahi saat ditemui di lokasi mengatakan, ada 21 unit mobil pemadam kebakaran yang diterjunkan untuk menjinakkan si jago merah. Namun sebagian masih tertahan di perjalanan karena macet. "Kita kirim 21 unit Damkar. Sebagian unit kita belum masuk karena macet," kata Nurdin, Kamis (31/5) malam.
Selain macet, kondisi tempat kebakaran juga menyulitkan petugas. "Kesulitan kita lokasi TKP sekelilingnya tembok dan di dalam ada lumpur," imbuhnya.
Hingga pukul 19.40 WIB, api masih menyala meski terlihat mengecil dibandingkan sebelumnya. Belum ada laporan soal korban jiwa maupun penyebab kebakaran. Profil gudang tersebut pun masih diselidiki.
"Informasi awal penampungan alat berat. Yang kebakar kebetulan di tumpukan ban," tambahnya.
Pantauan KabarPenjaringan, sebagian warga yang tadinya memadati lokasi kejadian, saat ini telah berkurang. Arus lalu lintas di sekitar gudang memang tak padat, namun akses menuju Jl Pergudangan, Muara Karang, Jakarta Utara, saat ini terpantau macet. (tim)
Kasi Ops Damkar Jakarta Utara Nurdin Silalahi saat ditemui di lokasi mengatakan, ada 21 unit mobil pemadam kebakaran yang diterjunkan untuk menjinakkan si jago merah. Namun sebagian masih tertahan di perjalanan karena macet. "Kita kirim 21 unit Damkar. Sebagian unit kita belum masuk karena macet," kata Nurdin, Kamis (31/5) malam.
Selain macet, kondisi tempat kebakaran juga menyulitkan petugas. "Kesulitan kita lokasi TKP sekelilingnya tembok dan di dalam ada lumpur," imbuhnya.
Hingga pukul 19.40 WIB, api masih menyala meski terlihat mengecil dibandingkan sebelumnya. Belum ada laporan soal korban jiwa maupun penyebab kebakaran. Profil gudang tersebut pun masih diselidiki.
"Informasi awal penampungan alat berat. Yang kebakar kebetulan di tumpukan ban," tambahnya.
Pantauan KabarPenjaringan, sebagian warga yang tadinya memadati lokasi kejadian, saat ini telah berkurang. Arus lalu lintas di sekitar gudang memang tak padat, namun akses menuju Jl Pergudangan, Muara Karang, Jakarta Utara, saat ini terpantau macet. (tim)
Langganan:
Postingan
(
Atom
)








