KabarPenjaringan - Terpidana kasus pembunuhan siswa berprestasi pemenang olimpiade
matematika Singapura, Christopher Melky Tanujaya yang terjadi Desember
tahun lalu, Abdul Jalil, 24, tewas dalam masa tahanan 10 tahun penjara.
Pihak keluarga menduga Abdul tewas karena penyiksaan.
Setelah sebelumnya diduga menjadi korban salah tangkap, Abdul
dijatuhi vonis 10 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara
pada 16 Agustus tahun ini. Selang dua bulan, pihak keluarga mendapatkan
kabar bahwa Abdul tewas akibat sakit.
"Selasa malam keluarga dikabari Abdul tewas, tapi simpang siur. Ada
kabar dia tewas di tahanan, ada pula yang bilang dia sempat dirawat di
RS Polri selama empat hari. Keluarga tidak dapat informasi yang jelas," ujar tetangga yang dekat dengan pihak keluarga, Jonathan kepada KabarPenjaringan, Jumat (19/10) petang.
Berdasarkan keterangan pihak keluarga, ujarnya, pada jenazah Abdul
terdapat sejumlah lebam kehitaman. Menurutnya, seharusnya dilakukan
Autopsi terhadap jenazah Abdul agar penyebab kematiannya dapat diketahui
dengan pasti.
"Sampai sekarang pun sakit yang dikatakan pihak lapas kepada
keluarga masih simpang siur. Padahal sekarang ini masih proses mau
banding karena keluarga masih tidak percaya Abdul melakukan pembunuhan,"
tegasnya. Jenazah Abdul dimakamkan di Pemakaman Cikupa, Kabupaten
Tangerang, Banten pada Rabu pagi.
Abdul ditangkap pada Kamis 8 Desember 2012 atas kasus penusukan
bermotif perampokan blackberry di Pluit Selatan Penjaringan, Jakarta
Utara pada 5 Desember 2011 yang menewaskan Christopher Melky Tanujaya,
16, warga Perumahan Taman Grisenda, Kapuk Muara, Penjaringan, Jakarta
Utara.
Dalam sejumlah persidangan, Abdul mengaku telah dipaksa mengakui pembunuhan yang tak dilakukannya oleh tim buser Polsek Metro Penjaringan,
karena disiksa dan diiming-imingi akan diberi pekerjaan. (tim)
Jumat, 19 Oktober 2012
Diduga Disiksa, Seorang Tahanan Meninggal Dunia
KabarPenjaringan - Rumah keluarga pasangan suami istri Nasir, 41, dan Rasyini, 41, tampak
tidak seperti biasanya. Kedua pasangan itu memang tengah dirundung duka.
Maklum, putra sulung mereka, Abdul Jalil, 24, baru saja meninggalkan
keduanya untuk selamanya.
Karena itu, di depan rumah yang berlokasi di Gang Wira Bumi, Jalan Bhakti, Penjaringan, Jakarta Utara, itu berjejer kursi dan meja plastik warna biru. Sedangkan di bagian dalam rumah, di ruang tamu tersedia minuman kemasan botol dan gelas serta beberapa jenis cemilan dan kue.
Sebagai informasi, Abdul Jalil adalah terpidana kasus pembunuhan siswa berprestasi pemenang olimpiade matematika Singapura, Christopher Melky Tanujaya yang terjadi Desember tahun lalu. Abdul Jalil dijatuhi hukuman 10 tahun penjara dalam sidang vonis di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, (16/8).
Sepanjang persidangan, Abdul Jalil alias Adul alias Ayub meminta keadilan berpihak padanya karena ia merasa telah dipaksa untuk mengakui pembunuhan yang tidak dilakukannya. Kuasa hukum terdakwa, Supandi, menyatakan banding atas keputusan pengadilan tersebut.
Sidang kasus pembunuhan yang telah menuai sejumlah protes dari ratusan warga Gang Wira Bumi, Jalan Bhakti, Penjaringan, Jakarta Utara. Putra sulung dari pasangan Nasir dan Rasyini tersebut hanya tertunduk lesu ketika majelis hakim memutuskan hukuman 10 tahun penjara baginya atas kasus penusukan yang berujung kematian Christopher.
“Maaf sekali, ya, kami sedang berduka. Kami merelakan almarhum, semoga diterima disisi-Nya,” ungkap Nasir sembari menyalami awak KabarPenjaringan, Jumat (19/10) petang. Air mata Nasir tak hentinya bercucuran.
Karena kelelahan, Nasir meminta maaf karena tidak bisa berbagi duka atau cerita sepenuhnya. Namun, Ati, 31, tetangga keluarga tersebut yang selalu mengikuti setiap perkembangan kasus Abdul lewat persidangan pun berbagi cerita. Perempuan yang kenal dekat dengan almarhum bertutur kalau pada Selasa malam (16/10), dua orang polisi berpakaian preman mendatangi rumah Nasir.
Kedua orang polisi itu lalu dipertemukan dengan bibi almarhum, Nunung. Kepada Nunung itulah diberitahukan kalau Abdul sudah meninggal dunia. Nasir pun mengambil jenazah anaknya ke rumah sakit dan tiba di rumah, tengah malam.
Menurut Ati, seperti yang diceritakan kedua petugas itu, Abdul sudah menderita sakit (dikatakan sakit TBC) sedari Sabtu (13/10) dan dirawat di Rumah Sakit Kramat Jati. “Kalau sudah sakit dari Sabtu, kenapa baru ngasih tau kami pas sudah meninggal,” ungkap Ati dengan nada kesal. “Dan, masa iya sih kalau karena TBC bisa meninggal dalam keadaan lebam di mana-mana,” imbuhnya.
Ati yang melihat langsung jenazah korban pun menangkap kejanggalan atas kematian orang yang dikenalnya sedari kecil itu. Pasalnya di beberapa bagian tubuh Abdul terlihat membiru dan kehitam-hitaman seperti pada pinggang, pundak, pantat, dan telapak kaki. "Kayak ditonjok dan dipukul dia selama di penjara," ujar Ati.
Kejanggalan lainnya, ketika diambil di kamar jenazah, Abdul dalam kedaan dibekukan atau dimasukkan ke dalam kotak pendingin. “Masa orang baru meninggal sudah beku. Ya, kan nggak harus dibeku-bekukan segala. Kayak sudah meninggal lama aja,” kata Ati dengan nada meninggi.
Memang setelah resmi divonis 10 tahun penjara di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, 16 Agustus silam, pihak keluarga tidak pernah menjenguk Abdul ke Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Pasalnya, almarhum sendiri meminta keluarga untuk tidak dijenguk dengan alasan tidak mau merepotkan. Maklum, sang ibu sedang menderita sakit stroke. "(Abdul) enggak mau ditengokin karena tidak mau nyusahin keluarga,” tutur Ati.
Sebelum resmi divonis, Ati memang pernah sesumbar menanyakan kepada almarhum apakah mendapatkan perlakukan tidak baik seperti penyiksaan fisik. Kepada Ati, almarhum mengaku tidak pernah disiksa. “Tapi kan itu kan itu sebelum divonis, wajarlah orang masih proses ini. Nah, kita kan enggak tahu tuh setelah divonisnya bagaimana Abdul di dalam penjara,” katanya.
Almarhum yang dikenal sebagai orang yang baik hati dan tidak suka macam-macam dalam kesehariannya itu sudah dimakamkan. Berangkat sekitar pukul 09.00 WIB pagi dari rumah duka, almarhum selesai disemayamkan sekitar pukul 10.00 WIB di Pemakaman Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten. Ditanya apakah pihak keluarga ada mendapat santunan kematian, Ati menyatakan, "Pulang-pulang jasadnya doang, untung enggak hancur (badannya). Boro-boro mau ngasih santunan. Jenazah almarhum juga kita ambil sendiri, mobil sendiri."
Menurut Ati, proses hukum Abdul sedang dalam pengajuan banding untuk merespon vonis yang dijatuhkan kepada Abdul. “(Menurut pengacara) kita sedang mau naik banding. Rencananya itu, antara tanggal 22 atau 23 Oktober kita bandingnya,” jelas Ati. (tim)
Karena itu, di depan rumah yang berlokasi di Gang Wira Bumi, Jalan Bhakti, Penjaringan, Jakarta Utara, itu berjejer kursi dan meja plastik warna biru. Sedangkan di bagian dalam rumah, di ruang tamu tersedia minuman kemasan botol dan gelas serta beberapa jenis cemilan dan kue.
Sebagai informasi, Abdul Jalil adalah terpidana kasus pembunuhan siswa berprestasi pemenang olimpiade matematika Singapura, Christopher Melky Tanujaya yang terjadi Desember tahun lalu. Abdul Jalil dijatuhi hukuman 10 tahun penjara dalam sidang vonis di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, (16/8).
Sepanjang persidangan, Abdul Jalil alias Adul alias Ayub meminta keadilan berpihak padanya karena ia merasa telah dipaksa untuk mengakui pembunuhan yang tidak dilakukannya. Kuasa hukum terdakwa, Supandi, menyatakan banding atas keputusan pengadilan tersebut.
Sidang kasus pembunuhan yang telah menuai sejumlah protes dari ratusan warga Gang Wira Bumi, Jalan Bhakti, Penjaringan, Jakarta Utara. Putra sulung dari pasangan Nasir dan Rasyini tersebut hanya tertunduk lesu ketika majelis hakim memutuskan hukuman 10 tahun penjara baginya atas kasus penusukan yang berujung kematian Christopher.
“Maaf sekali, ya, kami sedang berduka. Kami merelakan almarhum, semoga diterima disisi-Nya,” ungkap Nasir sembari menyalami awak KabarPenjaringan, Jumat (19/10) petang. Air mata Nasir tak hentinya bercucuran.
Karena kelelahan, Nasir meminta maaf karena tidak bisa berbagi duka atau cerita sepenuhnya. Namun, Ati, 31, tetangga keluarga tersebut yang selalu mengikuti setiap perkembangan kasus Abdul lewat persidangan pun berbagi cerita. Perempuan yang kenal dekat dengan almarhum bertutur kalau pada Selasa malam (16/10), dua orang polisi berpakaian preman mendatangi rumah Nasir.
Kedua orang polisi itu lalu dipertemukan dengan bibi almarhum, Nunung. Kepada Nunung itulah diberitahukan kalau Abdul sudah meninggal dunia. Nasir pun mengambil jenazah anaknya ke rumah sakit dan tiba di rumah, tengah malam.
Menurut Ati, seperti yang diceritakan kedua petugas itu, Abdul sudah menderita sakit (dikatakan sakit TBC) sedari Sabtu (13/10) dan dirawat di Rumah Sakit Kramat Jati. “Kalau sudah sakit dari Sabtu, kenapa baru ngasih tau kami pas sudah meninggal,” ungkap Ati dengan nada kesal. “Dan, masa iya sih kalau karena TBC bisa meninggal dalam keadaan lebam di mana-mana,” imbuhnya.
Ati yang melihat langsung jenazah korban pun menangkap kejanggalan atas kematian orang yang dikenalnya sedari kecil itu. Pasalnya di beberapa bagian tubuh Abdul terlihat membiru dan kehitam-hitaman seperti pada pinggang, pundak, pantat, dan telapak kaki. "Kayak ditonjok dan dipukul dia selama di penjara," ujar Ati.
Kejanggalan lainnya, ketika diambil di kamar jenazah, Abdul dalam kedaan dibekukan atau dimasukkan ke dalam kotak pendingin. “Masa orang baru meninggal sudah beku. Ya, kan nggak harus dibeku-bekukan segala. Kayak sudah meninggal lama aja,” kata Ati dengan nada meninggi.
Memang setelah resmi divonis 10 tahun penjara di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, 16 Agustus silam, pihak keluarga tidak pernah menjenguk Abdul ke Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Pasalnya, almarhum sendiri meminta keluarga untuk tidak dijenguk dengan alasan tidak mau merepotkan. Maklum, sang ibu sedang menderita sakit stroke. "(Abdul) enggak mau ditengokin karena tidak mau nyusahin keluarga,” tutur Ati.
Sebelum resmi divonis, Ati memang pernah sesumbar menanyakan kepada almarhum apakah mendapatkan perlakukan tidak baik seperti penyiksaan fisik. Kepada Ati, almarhum mengaku tidak pernah disiksa. “Tapi kan itu kan itu sebelum divonis, wajarlah orang masih proses ini. Nah, kita kan enggak tahu tuh setelah divonisnya bagaimana Abdul di dalam penjara,” katanya.
Almarhum yang dikenal sebagai orang yang baik hati dan tidak suka macam-macam dalam kesehariannya itu sudah dimakamkan. Berangkat sekitar pukul 09.00 WIB pagi dari rumah duka, almarhum selesai disemayamkan sekitar pukul 10.00 WIB di Pemakaman Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten. Ditanya apakah pihak keluarga ada mendapat santunan kematian, Ati menyatakan, "Pulang-pulang jasadnya doang, untung enggak hancur (badannya). Boro-boro mau ngasih santunan. Jenazah almarhum juga kita ambil sendiri, mobil sendiri."
Menurut Ati, proses hukum Abdul sedang dalam pengajuan banding untuk merespon vonis yang dijatuhkan kepada Abdul. “(Menurut pengacara) kita sedang mau naik banding. Rencananya itu, antara tanggal 22 atau 23 Oktober kita bandingnya,” jelas Ati. (tim)
Keluarga Tidak Percaya AJ Meninggal Karena HIV Seperti Diberitakan Kompascom
KabarPenjaringan - Warga Lapas Cipinang yang meninggal di dalam tahanannya, AJ, dinyatakan
meninggal karena virus HIV. Namun pihak keluarga AJ tidak percaya,
mereka menduga adanya penyiksaan terhadap AJ.
"Dari keluarganya, jenazah AJ ada lebam kehitaman di badannya. Seharusnya dilakukan autopsi jenazah supaya tahu penyebabnya," kata tetangga dekat AJ, Jonathan, saat dihubungi KabarPenjaringan, Jumat (19/10/2012) petang.
Jonathan menjelaskan keluarga mengetahui AJ meninggal pada Selasa (16/10) tanpa adanya informasi yang jelas. AJ sendiri baru menjalani masa tahanannya selama 2 bulan dari 10 tahun yang harus dijalani.
"Selasa malam keluarga dikabari AJ tewas, tapi simpang siur. Ada kabar dia tewas di tahanan, ada pula yang bilang dia sempat dirawat di RS Polri selama empat hari. Keluarga tidak dapat informasi yang yang jelas," ujar Jonathan.
Pihak keluarga diketahui Jonathan masih belum mendapatkan keterangan jelas penyebab kematian AJ. Padahal keluarga AJ akan melakukan banding atas vonis yang dijatuhkan hakim pada tanggal 16 Agustus 2012 lalu.
"Sampai sekarang pun sakit yang dikatakan pihak lapas kepada keluarga masih simpang siur. Padahal sekarang ini masih proses mau banding karena keluarga masih tidak percaya AJ melakukan pembunuhan," ujar Jonathan.
Jenazah AJ telah dimakamkan di pemakaman Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten pada Rabu pagi. AJ sendiri adalah tahanan atas kasus pembunuhan siswa pemenang medali emas olimpiade matematika, Christopher Melky Tanujaya, pada Desember 2011.
Kabar meninggalnya AJ diperoleh dari keterangan Kasubdit Komunikasi Ditjen PAS AKbar Hadi. Akbar menjelaskan, sebelum meninggal, AJ sempat dirawat di poliklinik Rutan Cipinang. "Iya benar, kemarin (16/10) siang sekitar pukul 14.00 memang ada warga binaan penjara bernama AJ meninggal dunia di RS Kramatjati Polri," ujar Kasubdit Komunikasi Ditjen PAS Akbar Hadi dalam pesan singkat yang diterima KabarPenjaringan, Rabu (17/10/2012). (tim)
"Dari keluarganya, jenazah AJ ada lebam kehitaman di badannya. Seharusnya dilakukan autopsi jenazah supaya tahu penyebabnya," kata tetangga dekat AJ, Jonathan, saat dihubungi KabarPenjaringan, Jumat (19/10/2012) petang.
Jonathan menjelaskan keluarga mengetahui AJ meninggal pada Selasa (16/10) tanpa adanya informasi yang jelas. AJ sendiri baru menjalani masa tahanannya selama 2 bulan dari 10 tahun yang harus dijalani.
"Selasa malam keluarga dikabari AJ tewas, tapi simpang siur. Ada kabar dia tewas di tahanan, ada pula yang bilang dia sempat dirawat di RS Polri selama empat hari. Keluarga tidak dapat informasi yang yang jelas," ujar Jonathan.
Pihak keluarga diketahui Jonathan masih belum mendapatkan keterangan jelas penyebab kematian AJ. Padahal keluarga AJ akan melakukan banding atas vonis yang dijatuhkan hakim pada tanggal 16 Agustus 2012 lalu.
"Sampai sekarang pun sakit yang dikatakan pihak lapas kepada keluarga masih simpang siur. Padahal sekarang ini masih proses mau banding karena keluarga masih tidak percaya AJ melakukan pembunuhan," ujar Jonathan.
Jenazah AJ telah dimakamkan di pemakaman Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten pada Rabu pagi. AJ sendiri adalah tahanan atas kasus pembunuhan siswa pemenang medali emas olimpiade matematika, Christopher Melky Tanujaya, pada Desember 2011.
Kabar meninggalnya AJ diperoleh dari keterangan Kasubdit Komunikasi Ditjen PAS AKbar Hadi. Akbar menjelaskan, sebelum meninggal, AJ sempat dirawat di poliklinik Rutan Cipinang. "Iya benar, kemarin (16/10) siang sekitar pukul 14.00 memang ada warga binaan penjara bernama AJ meninggal dunia di RS Kramatjati Polri," ujar Kasubdit Komunikasi Ditjen PAS Akbar Hadi dalam pesan singkat yang diterima KabarPenjaringan, Rabu (17/10/2012). (tim)
Senin, 11 Juni 2012
3 Bocah Warga Penjaringan Menderita Gizi Buruk
KabarPenjaringan - Tiga bocah Halimah Hasifa ,4 tahun, Noval Afif ,7 tahun, dan Waidah ,9 tahun, warga Jl
Ekor Kuning RT 002/004, Kel. Penjaringan, Kec. Penjaringan, Jakarta Utara menderita
gizi buruk. Karena kondisi ekonomi orang tua ketiga bocah itu tak
mampu dan mereka kini hanya dirawat alakadarnya di rumah. Bila sakit
mereka hanya menjalani pengobatan alternatif maupun di puskesmas
terdekat.
Uum Cahriyah, 38 tahun, ibu dari Halimah Hasifah ketika ditemui di rumahnya, anak ketujuh dari delapan bersaudara tersebut, sebelumnya lahir secara normal dengan berat badan 3,2 kilogram. Namun, pada saat usia 40 hari di Puskesmas Penjaringan, Halimah tidak bisa diimunisasi lantaran berat menurun hingga 2,3 kilogram. Meski begitu anak tersebut mendapat pengobatan jalan selama 4 bulan di puskesmas.
“Meski sudah saya lakukan pengobatan jalan, namun anak saya tidak ada perubahan. Maka dari itu saya rujuk ke RS Tarakan, Jakarta Pusat selama 1 minggu. Disitu katanya gizi buruk,” kata Uum, ketika ditemui KabarPenjaringan dikediamannya, Senin (11/6) siang.
Diakui oleh Uum, saat Halimah dilahirkan terdapat semacam benjolan di leher bagian belakang dan berisi cairan. Namun, penyakit itu sembuh sendiri setelah dibalur-balur dengan ludahnya. “Setiap bulan Halimah rata-rata 3 kali berobat ke puskesmas dengan biaya Rp 2.000. Tapi, kalau Halimah sesak nafas dan batuk langsung berobat dirumah sakit dengan biaya Rp 100 ribu,” ujarnya.
Diakui oleh Uum, sebenarnya pada Senin (4/6) lalu, dirinya ke RSCM untuk CT Scan, tapi sesampainya disana tidak jadi karena harus membayar sebesar Rp 1,6 juta.
"Karena biaya terlalu tinggi makanya saya konsultasi saja dengan harapan mendapat keringanan biaya. Saya disarankan membuat SKTM bahkan saya diberi surat pengantar dari RSCM untuk membuatnya. Tapi, saya ke sana lagi dan memakai SKTP tetap ditolak dengan alasan Scan tetap harus bayar,” keluhnya.
Uum menjelaskan, Halimah merupakan anaknya dengan suami Sukatma, 53 tahun. Dirinya dengan suami sekarang ini hanya nikah sirih, sehingga tidak tercatat di KUA dan tidak ada surat nikah. Padahal, untuk mendapat SKTM penting terutama untuk berobat anaknya Halimah. “Tapi saat mengurusi surat itu banyak dibantu petugas sehingga saat ini saya hanya tinggal menunggu saja,” ucapnya.
Sementara itu dua bocah lainnya yang juga menderita gizi buruk diketahui bernama Waidah dan Noval Afif. “Disini ada 3 bocah yang diduga menderita gizi buruk. Selama ini kami hanya membantu mengurus membuat SKTM dan ke puskesmas,” kata Gunawan ,40 tahun, Anggota Linmas RW 04. (tim)
Uum Cahriyah, 38 tahun, ibu dari Halimah Hasifah ketika ditemui di rumahnya, anak ketujuh dari delapan bersaudara tersebut, sebelumnya lahir secara normal dengan berat badan 3,2 kilogram. Namun, pada saat usia 40 hari di Puskesmas Penjaringan, Halimah tidak bisa diimunisasi lantaran berat menurun hingga 2,3 kilogram. Meski begitu anak tersebut mendapat pengobatan jalan selama 4 bulan di puskesmas.
“Meski sudah saya lakukan pengobatan jalan, namun anak saya tidak ada perubahan. Maka dari itu saya rujuk ke RS Tarakan, Jakarta Pusat selama 1 minggu. Disitu katanya gizi buruk,” kata Uum, ketika ditemui KabarPenjaringan dikediamannya, Senin (11/6) siang.
Diakui oleh Uum, saat Halimah dilahirkan terdapat semacam benjolan di leher bagian belakang dan berisi cairan. Namun, penyakit itu sembuh sendiri setelah dibalur-balur dengan ludahnya. “Setiap bulan Halimah rata-rata 3 kali berobat ke puskesmas dengan biaya Rp 2.000. Tapi, kalau Halimah sesak nafas dan batuk langsung berobat dirumah sakit dengan biaya Rp 100 ribu,” ujarnya.
Diakui oleh Uum, sebenarnya pada Senin (4/6) lalu, dirinya ke RSCM untuk CT Scan, tapi sesampainya disana tidak jadi karena harus membayar sebesar Rp 1,6 juta.
"Karena biaya terlalu tinggi makanya saya konsultasi saja dengan harapan mendapat keringanan biaya. Saya disarankan membuat SKTM bahkan saya diberi surat pengantar dari RSCM untuk membuatnya. Tapi, saya ke sana lagi dan memakai SKTP tetap ditolak dengan alasan Scan tetap harus bayar,” keluhnya.
Uum menjelaskan, Halimah merupakan anaknya dengan suami Sukatma, 53 tahun. Dirinya dengan suami sekarang ini hanya nikah sirih, sehingga tidak tercatat di KUA dan tidak ada surat nikah. Padahal, untuk mendapat SKTM penting terutama untuk berobat anaknya Halimah. “Tapi saat mengurusi surat itu banyak dibantu petugas sehingga saat ini saya hanya tinggal menunggu saja,” ucapnya.
Sementara itu dua bocah lainnya yang juga menderita gizi buruk diketahui bernama Waidah dan Noval Afif. “Disini ada 3 bocah yang diduga menderita gizi buruk. Selama ini kami hanya membantu mengurus membuat SKTM dan ke puskesmas,” kata Gunawan ,40 tahun, Anggota Linmas RW 04. (tim)
Kamis, 31 Mei 2012
5 Jam Api Baru Padam, Pemilik Gudang di Muara Karang Rugi Ratusan Juta Rupiah
KabarPenjaringan - Kebakaran yang terjadi di kompleks Pergudangan Muara Karang, Jakarta
Utara, akhirnya bisa dipadamkan. Petugas berhasil memadamkan api setelah
lima jam berjibaku dengan si jago merah. Kerugian akibat kebakaran itu
ditaksir ratusan juta rupiah.
"Ini baru saja selesai, kerugian menurut penjaga gudang sampai ratusan juta," ujar Kasi Ops Damkar Jakarta Utara Nurdin Silalahi, saat dihubungi KabarPenjaringan pukul 21.35, Kamis, (31/5/12) malam.
Menurutnya, kebakaran yang terjadi sejak pukul 16.30 WIB itu baru bisa dipadamkan setelah 21 unit pemadam kebakaran diturunkan. Diantaranya, 14 mobil pemadam kebakaran dari Dinas Jakarta Utara, 2 mobil damkar dari Jakarta Barat, dan 5 dari dinas lainnya.
"Alhamdulillah aman, tidak ada korban," ucapnya saat ditanya adanya korban jiwa akibat peristiwa itu.
Ia juga menjelaskan bahwa lamanya proses pemadaman dikarenakan barang-barang di dalam gudang terbuat dari besi dan karet. Gudang seluas 20x40 meter itu menyimpan barang-barang rongsokan dari kontainer. "Kesulitannya karena isi gudang besi-besi dan ban-ban besar truk," kata Nurdin. (tim)
"Ini baru saja selesai, kerugian menurut penjaga gudang sampai ratusan juta," ujar Kasi Ops Damkar Jakarta Utara Nurdin Silalahi, saat dihubungi KabarPenjaringan pukul 21.35, Kamis, (31/5/12) malam.
Menurutnya, kebakaran yang terjadi sejak pukul 16.30 WIB itu baru bisa dipadamkan setelah 21 unit pemadam kebakaran diturunkan. Diantaranya, 14 mobil pemadam kebakaran dari Dinas Jakarta Utara, 2 mobil damkar dari Jakarta Barat, dan 5 dari dinas lainnya.
"Alhamdulillah aman, tidak ada korban," ucapnya saat ditanya adanya korban jiwa akibat peristiwa itu.
Ia juga menjelaskan bahwa lamanya proses pemadaman dikarenakan barang-barang di dalam gudang terbuat dari besi dan karet. Gudang seluas 20x40 meter itu menyimpan barang-barang rongsokan dari kontainer. "Kesulitannya karena isi gudang besi-besi dan ban-ban besar truk," kata Nurdin. (tim)
Terhalang Tembok Tinggi, Petugas Pemadam Kesulitan Jinakkan Api di Muara Karang
KabarPenjaringan - Gudang di kompleks Pergudangan Muara Karang, Jakarta
Utara, terbakar sejak sore tadi. Petugas kesulitan memadamkan api karena
gudang tersebut dikelilingi tembok tinggi.
Kasi Ops Damkar Jakarta Utara Nurdin Silalahi saat ditemui di lokasi mengatakan, ada 21 unit mobil pemadam kebakaran yang diterjunkan untuk menjinakkan si jago merah. Namun sebagian masih tertahan di perjalanan karena macet. "Kita kirim 21 unit Damkar. Sebagian unit kita belum masuk karena macet," kata Nurdin, Kamis (31/5) malam.
Selain macet, kondisi tempat kebakaran juga menyulitkan petugas. "Kesulitan kita lokasi TKP sekelilingnya tembok dan di dalam ada lumpur," imbuhnya.
Hingga pukul 19.40 WIB, api masih menyala meski terlihat mengecil dibandingkan sebelumnya. Belum ada laporan soal korban jiwa maupun penyebab kebakaran. Profil gudang tersebut pun masih diselidiki.
"Informasi awal penampungan alat berat. Yang kebakar kebetulan di tumpukan ban," tambahnya.
Pantauan KabarPenjaringan, sebagian warga yang tadinya memadati lokasi kejadian, saat ini telah berkurang. Arus lalu lintas di sekitar gudang memang tak padat, namun akses menuju Jl Pergudangan, Muara Karang, Jakarta Utara, saat ini terpantau macet. (tim)
Kasi Ops Damkar Jakarta Utara Nurdin Silalahi saat ditemui di lokasi mengatakan, ada 21 unit mobil pemadam kebakaran yang diterjunkan untuk menjinakkan si jago merah. Namun sebagian masih tertahan di perjalanan karena macet. "Kita kirim 21 unit Damkar. Sebagian unit kita belum masuk karena macet," kata Nurdin, Kamis (31/5) malam.
Selain macet, kondisi tempat kebakaran juga menyulitkan petugas. "Kesulitan kita lokasi TKP sekelilingnya tembok dan di dalam ada lumpur," imbuhnya.
Hingga pukul 19.40 WIB, api masih menyala meski terlihat mengecil dibandingkan sebelumnya. Belum ada laporan soal korban jiwa maupun penyebab kebakaran. Profil gudang tersebut pun masih diselidiki.
"Informasi awal penampungan alat berat. Yang kebakar kebetulan di tumpukan ban," tambahnya.
Pantauan KabarPenjaringan, sebagian warga yang tadinya memadati lokasi kejadian, saat ini telah berkurang. Arus lalu lintas di sekitar gudang memang tak padat, namun akses menuju Jl Pergudangan, Muara Karang, Jakarta Utara, saat ini terpantau macet. (tim)
Sempat Terdengar Ledakan, Gudang Rongsokan di Muara Karang Terbakar

Berdasarkan penuturan warga, lham (34), kebakaran terjadi sekitar pukul 16.30 WIB. Asap pertama kali dilihat dari bagian tengah gudang. "Saya pulang, pukul 16.30 WIB sudah lihat asap. Saya kira sampah, saya balik lagi tahunya api sudah membesar. Saya sempat dengar ledakan, tapi saya nggak tahu berapa kali karena panik," ujar Ilham saat ditemui di lokasi, Kamis (31/5) malam.
Hingga pukul 18.30 WIB ada sekitar 7 mobil pemadam kebakaran dari Dinas Pemadam Kebakaran Jakarta Utara. Api masih menyala. Arus lalu lintas di lokasi tidak terpengaruh karena posisi gudang berada di area pergudangan.
Namun petugas polisi tetap berjaga di sekitar lokasi. Belum ada informasi soal penyebab kebakaran maupun kemungkinan korban akibat insiden ini. (tim)
Jumat, 25 Mei 2012
Warga Muara Karang Gelar Doa Bersama Pasca Kebakaran
KabarPenjaringan - Warga sekitar komplek Ruko Muara Karang, Penjaringan, Jakarta Utara
menggelar doa bersama pada Kamis (24/5/2012) malam pasca kebakaran salah
satu ruko di Blok 4 Z8 Utara Nomor 3 yang menewaskan tiga orang
kakak-beradik. Doa diutamakan secara keagamaan Buddha sesuai agama para
korban kebakaran tersebut.
Kegiatan ini mendatangkan lima biksu dari Tibet di bawah naungan Wihara Zurmang Kaygud di kawasan Cideng, Jakarta Pusat. Doa bersama dimulai sekitar pukul 19.30 dengan membaca mantra Quan Im. Di atas altar persembahan, tersaji minyak goreng, roti, bunga krisan, minuman, biji-bijian, susu, dan beberapa hidangan lainnya.
Warga yang datang berdoa dengan khidmat. Mereka memegang siu sambil menitikkan air mata. Doa bersama berlangsung sekitar dua jam. Menurut panitia acara, Cahyo Utomo (65), kepada KabarPenjaringan, Jumat (25/5) petang, doa bersama tidak hanya diperuntukkan bagi yang beragama Buddha. "Dari yang lain silahkan," ujarnya.
Ia mengatakan, acara tersebut berdasarkan masukan dari beberapa kawannya yang beragaman Buddha. "Saya mengadakan ini dari dua-tiga orang teman-teman Buddha untuk mendatangkan biksu. Dari awal empat hari lalu ada orang dari Jakarta Barat, doa-doa dia bilang, oke kita doa lagi," katanya.
Mengenai kabar kedatangan calon wakil gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Cahyo menolaknya. "Saya tidak mengundang beliau. Saya tidak mau ini jadi komoditas politik. Kalaupun beliau datang, saya tidak rekomendasikan," ungkapnya.
Seperti diwartakan sebelumnya, sebuah ruko yang menjual bahan kebutuhan pokok di kawasan Muara Karang, Penjaringan, Jakarta Utara, terbakar pada Selasa (15/5/2012) pukul 22.00 WIB. Kejadian itu menewaskan tiga kakak beradik yang terkunci di dalam ruko tersebut. (tim)
Kegiatan ini mendatangkan lima biksu dari Tibet di bawah naungan Wihara Zurmang Kaygud di kawasan Cideng, Jakarta Pusat. Doa bersama dimulai sekitar pukul 19.30 dengan membaca mantra Quan Im. Di atas altar persembahan, tersaji minyak goreng, roti, bunga krisan, minuman, biji-bijian, susu, dan beberapa hidangan lainnya.
Warga yang datang berdoa dengan khidmat. Mereka memegang siu sambil menitikkan air mata. Doa bersama berlangsung sekitar dua jam. Menurut panitia acara, Cahyo Utomo (65), kepada KabarPenjaringan, Jumat (25/5) petang, doa bersama tidak hanya diperuntukkan bagi yang beragama Buddha. "Dari yang lain silahkan," ujarnya.
Ia mengatakan, acara tersebut berdasarkan masukan dari beberapa kawannya yang beragaman Buddha. "Saya mengadakan ini dari dua-tiga orang teman-teman Buddha untuk mendatangkan biksu. Dari awal empat hari lalu ada orang dari Jakarta Barat, doa-doa dia bilang, oke kita doa lagi," katanya.
Mengenai kabar kedatangan calon wakil gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Cahyo menolaknya. "Saya tidak mengundang beliau. Saya tidak mau ini jadi komoditas politik. Kalaupun beliau datang, saya tidak rekomendasikan," ungkapnya.
Seperti diwartakan sebelumnya, sebuah ruko yang menjual bahan kebutuhan pokok di kawasan Muara Karang, Penjaringan, Jakarta Utara, terbakar pada Selasa (15/5/2012) pukul 22.00 WIB. Kejadian itu menewaskan tiga kakak beradik yang terkunci di dalam ruko tersebut. (tim)
Jumat, 18 Mei 2012
Wisata Ke Museum Bahari (2) : Menara Syahbandar 2 Kali Terbakar
KabarPenjaringan - Menara Syahbandar di Jl Pasar Ikan, Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, saat ini menjadi kantor Museum Bahari. Sebelum pertengahan tahun 2011, pernah dinyatakan bertambah miring, dari semula 2 derajat menjadi 4 derajat dari garis vertical. Penelitian itu dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Teknik Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta Barat. Pertambahan kemiringan itu terjadi secara gradual selama 20 tahun terakhir ini. Maklum, umur bangunan setinggi 18 meter tersebut sudah hampir berusia 173 tahun, didirikan tahun 1839.
Sementara kendaraan berat tiap hari berlalu-lalang di Jalan Pakin yang menambah kemiringan menara tersebut ke arah selatan. Karena itu perlu segera dilakukan perbaikan dan konservasi terhadap menara tersebut, sekaligus menata lingkungannya. Kepala UPT Museum Bahari, Dra Dwi Martati mengakui sekarang ini sedang dilakukan perencanaan konservasi terhadap menara tersebut. Sebab bangunan itu juga rawan kebakaran karena atap dan rangkanya, jendela, kanopi, tangga maupun lantai tingkat atasnya dari kayu. Melihat pemandangan dari lantai dua maupun tiga menara tersebut mengasyikkan sambil melihat papan informasi sejarah bangunan kuno tersebut.
Namun sayangnya, bila kita berdiri di ketinggian itu goncangannya terasa sekali manakala kendaraan berat sedang lewat di jalan yang menghubungkan kawasan Pluit dan Pelabuhan Sunda Kelapa dan Tanjung Priok tersebut. Karena itu, pernah Dinas Perhubungan DKI melarang kendaraan berat melewati jalan tersebut 1 Juli 2011.
Namun peraturan itu tak diindahkan kedua belah-pihak. Mengenai kebakaran Menara Syahbandar, Sukma pemandu wisata di Museum Bahari menuturkan kebakaran pertama Mei 2002 akibat puntung rokok pengunjung yang membakar kanopi beratap sirap. Beberapa mobil pemadam berhasil menjinakkan kobaran api. Yang kedua April 2010 juga akibat puntung rokok wisatawan. Namun tidak sempat mengundang mobil pemadam.
Dari pengalaman tersebut pihak museum kini telah memasang larangan merokok bagi pengunjung. Mengingat kemiringan dan kondisi daya dukung menara yang sudah renta itu, pihak Museum Bahari juga membatasi jumlah pengunjung. Banyak keistimewaan di komplek Museum Bahari, yang lokasinya menjadi satu kawasan dengan Pelabuhan Sunda Kelapa ini. Kita dapat menyaksikan perahu dan kapal tradisional dari berbagai perairan di nusantara yang pernah mengarungi samudra di seluruh dunia sejak zaman purba hingga abad ke 20.
Baik itu perahu yang asli, replica maupun miniaturnya berikut peralatan navigasi aslinya. Bahkan, bagian-bagian kapal Phinisi Nusantara yang pernah mengarungi Lautan Pasifik dan Atlantik sampai ke Vancouver yang akhirnya karam di perairan Pulau Seribu, juga dipajang di museum itu. Empat ratusan foto dokumentasi perkembangan pelabuhan Tanjung Priok dan pelabuhan lainnya serta pembangunan Terusan Suez di Mesir juga dapat dilihat di situ.
Walikota Jakarta Utara, Bambang Sugiono ketika datang berkunjung, Jumat (18/5/2012) petang, juga melihat ada 4 keistimewaan dari Museum Bahari. Pertama, kata Bambang Sugiono, Sunda Kelapa adalah cikal bakal kota Jakarta yang merupakan pelabuhan kerajaan tertua di Pulau Jawa yaitu Kerajaan Tarumanagara. Kedua, Menara Syahbandar merupakan titik nol kilometer Kota Batavia sampai menjadi Jakarta setelah kemerdekaan. Ketiga, dulunya tempat ini merupakan kubu pertahanan Kota Batavia yhaitu Bastion Cullemborg yang masih utuh sampai saat ini.
Keempat, bangunan Museum Bahari terdiri 3 bangunan merupakan gudang VOC untuk menyimpan rempah rempah dari abad 17 dan 18 yang terbesar di dunia yang masih terpelihara hingga sekarang. Kelima kawasan ini telah dicanangkan sebagai salah satu dari 12 titik destinasi wisata pesisir Jakarta Utara sejak tahun 2009. Pengunjung museum tiga bulan terakhir rata-rata 82 orang per hari. Tercatat selama Juli 2011 mencapai 2.764 orang. (tim)
Sementara kendaraan berat tiap hari berlalu-lalang di Jalan Pakin yang menambah kemiringan menara tersebut ke arah selatan. Karena itu perlu segera dilakukan perbaikan dan konservasi terhadap menara tersebut, sekaligus menata lingkungannya. Kepala UPT Museum Bahari, Dra Dwi Martati mengakui sekarang ini sedang dilakukan perencanaan konservasi terhadap menara tersebut. Sebab bangunan itu juga rawan kebakaran karena atap dan rangkanya, jendela, kanopi, tangga maupun lantai tingkat atasnya dari kayu. Melihat pemandangan dari lantai dua maupun tiga menara tersebut mengasyikkan sambil melihat papan informasi sejarah bangunan kuno tersebut.
Namun sayangnya, bila kita berdiri di ketinggian itu goncangannya terasa sekali manakala kendaraan berat sedang lewat di jalan yang menghubungkan kawasan Pluit dan Pelabuhan Sunda Kelapa dan Tanjung Priok tersebut. Karena itu, pernah Dinas Perhubungan DKI melarang kendaraan berat melewati jalan tersebut 1 Juli 2011.
Namun peraturan itu tak diindahkan kedua belah-pihak. Mengenai kebakaran Menara Syahbandar, Sukma pemandu wisata di Museum Bahari menuturkan kebakaran pertama Mei 2002 akibat puntung rokok pengunjung yang membakar kanopi beratap sirap. Beberapa mobil pemadam berhasil menjinakkan kobaran api. Yang kedua April 2010 juga akibat puntung rokok wisatawan. Namun tidak sempat mengundang mobil pemadam.
Dari pengalaman tersebut pihak museum kini telah memasang larangan merokok bagi pengunjung. Mengingat kemiringan dan kondisi daya dukung menara yang sudah renta itu, pihak Museum Bahari juga membatasi jumlah pengunjung. Banyak keistimewaan di komplek Museum Bahari, yang lokasinya menjadi satu kawasan dengan Pelabuhan Sunda Kelapa ini. Kita dapat menyaksikan perahu dan kapal tradisional dari berbagai perairan di nusantara yang pernah mengarungi samudra di seluruh dunia sejak zaman purba hingga abad ke 20.
Baik itu perahu yang asli, replica maupun miniaturnya berikut peralatan navigasi aslinya. Bahkan, bagian-bagian kapal Phinisi Nusantara yang pernah mengarungi Lautan Pasifik dan Atlantik sampai ke Vancouver yang akhirnya karam di perairan Pulau Seribu, juga dipajang di museum itu. Empat ratusan foto dokumentasi perkembangan pelabuhan Tanjung Priok dan pelabuhan lainnya serta pembangunan Terusan Suez di Mesir juga dapat dilihat di situ.
Walikota Jakarta Utara, Bambang Sugiono ketika datang berkunjung, Jumat (18/5/2012) petang, juga melihat ada 4 keistimewaan dari Museum Bahari. Pertama, kata Bambang Sugiono, Sunda Kelapa adalah cikal bakal kota Jakarta yang merupakan pelabuhan kerajaan tertua di Pulau Jawa yaitu Kerajaan Tarumanagara. Kedua, Menara Syahbandar merupakan titik nol kilometer Kota Batavia sampai menjadi Jakarta setelah kemerdekaan. Ketiga, dulunya tempat ini merupakan kubu pertahanan Kota Batavia yhaitu Bastion Cullemborg yang masih utuh sampai saat ini.
Keempat, bangunan Museum Bahari terdiri 3 bangunan merupakan gudang VOC untuk menyimpan rempah rempah dari abad 17 dan 18 yang terbesar di dunia yang masih terpelihara hingga sekarang. Kelima kawasan ini telah dicanangkan sebagai salah satu dari 12 titik destinasi wisata pesisir Jakarta Utara sejak tahun 2009. Pengunjung museum tiga bulan terakhir rata-rata 82 orang per hari. Tercatat selama Juli 2011 mencapai 2.764 orang. (tim)
Kamis, 17 Mei 2012
Berwisata Ke Museum Bahari (1) : ‘Kencan’ Dengan Arwah Noni Belanda
KabarPenjaringan - Tiap bangunan kuno, selain memiliki sejarah yang panjang, juga menyimpan misteri yang menjadi cerita rakyat di sekitarnya. Begitu pula dengan Museum Bahari yang terletak di Jl Pasar Ikan 1, Kelurahan Penjaringan Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Tiga bangunan bertingkat tersebut, memang sudah tua karena didirikan pada abad 17 dan 18 sesuai yang tertera di pintu utama masing-masing gedung.
Gedung tersebut dahulunya adalah gudang rempah-rempah VOC Belanda. Menurut cerita para nelayan di sekitar Pasar Ikan, Penjaringan dan Pelabuhan Sunda Kelapa, dahulu di lingkungan pergudangan tersebut ada seorang gadis yang cantik bernama Emma, putri mandor gudang tersebut, seorang Belanda.
Secara diam-diam gadis tersebut menjalin cinta dengan penjaga gudang, seorang pribumi keturunan Ambon bernama Yakob. Namun ketika di Batavia terjangkit wabah penyakit kolera tahun 1780, sang Mandor mengungsikan putrinya ke Pulau Onrust yang lebih aman, karena jauh dari kemungkinan penyebaran wabah dimaksud.
Tapi akhirnya Emma justru meninggal di pulau itu dengan menanggung rindu, dan dimakamkan juga di situ. Sedangkan Yakob juga tidak mampu menahan dukanya. Akhirnya tidak konsentrasi dalam bekerja sehingga dipulangkan ke Ambon. Setelah itu tidak diketahui lagi bagaimana kabarnya.
Karena itu bila nelayan melihat gadis Belanda menampakkan diri baik di pantai maupun di sekitar Museum Bahari, mereka menganggap sedang ditemani Si Emma, gadis berambut pirang yang malang itu. Di Pulau Onrust sendiri juga ada cerita semacam itu. Tidak jarang pemancing melihat gadis Belanda malam hari menampakkan diri di pulau tersebut.
Sukma, pemandu wisata di Museum Bahari mengakui adanya cerita misteri tersebut. “Kalau nelayan-nelayan tua masih percaya itu Pak,” kata Sukma kepada KabarPenjaringan, Kamis (17/5/2012) petang, yang keluarganya juga tinggal di dekat Masjid Luar Batang, tidak jauh dari kawasan Pasar Ikan.
Pengalaman Kru Televisi
Cerita misteri dari Museum Bahari, juga diungkapkan Suprihardjo, wartawan senior yang banyak menulis masalah wisata. Setengah tahun yang lalu, katanya, juga ada kru televisi swasta meliput cerita sejarah Museum Bahari dan kehidupan di sekitarnya. Inilah cerita Pak Pri, panggilan akrab Suprihardjo.
“Ketika memasuki gedung C yang didirikan tahun 1779 itu, terjadi keanehan. Gian, pembawa acara stasiun televisi tersebut, tiba-tiba meninggalkan pembicaraan bersama beberapa orang dan berjalan sendiri menuju salah satu ruangan,” kata Pak Pri, mantan jurnalis dari Harian Berita Buana ini, mulai bercerita.
Ketika kembali, ia menuturkan baru saja menemui orang yang memanggilnya. Kemudian mengecek kepada Sukma, apakah di sini ada penghuni seorang gadis Belanda? Tentu saja dijawab tidak. Yang ada hanya kucing beranak-pianak di situ. Kontan Gian jatuh pingsan. Baru setelah semuanya berlalu, Sukma baru berani mengungkapkan adanya cerita misteri tersebut. Termasuk kepada seluruh kru televisi yang meliputnya.
“Boleh percaya boleh tidak. Soal kebenaran cerita itu, wallahu a’lam bissawab, hanya Allah yang mengetahui di balik rahasia cerita itu,” kata Suprihardjo, yang sekarang lebih memilih sebagai wartawan penulis free lance ini.
1.500 Pengunjung Setiap Bulan
Berapa sebenarnya jumlah pengunjung Museum Bahari? Tidak menentu. Namun kata Kepala Subbag TU, Irfal Guci, rata-rata per bulan antara 1000 sampai 1500 orang. Pada musim liburan seperti sekarang ini, bisa mencapai 3000 sampai 5000. Namun pada waktu sepi, misalnya musim tahun ajaran baru bulan Agustus, kurang dari 1000 orang sebulan. Di museum bahari banyak ditemukan orang berkeliling mengendarai sepeda.
Mereka itu adalah pengunjung Museum Bahari juga. Ada yang naik sepeda onthel berombongan dua atau tiga orang. Ternyata mereka itu di pandu oleh pemilik sepeda yang menyewakan kendaraannya kepada wisatawan yang berkunjung ke Taman Fatahillah, Kota Tua. Pemilik usaha sepeda itu sendiri, memiliki paket wisata sepeda yaitu Museum Wayang, Pelabuhan Sunda Kelapa, Masjid Keramat Luar Batang, Museum Bahari dan Menara “Miring” Syahbandar.
Karena itu, orang-orang Museum Bahari mengakui persewaan sepeda onthel memiliki andil dalam memasyarakatkan keberadaan museum kepada pengunjung Taman Fatahillah dan Museum Sejarah Jakarta. Apalagi sejatinya kawasan Museum Bahari dan Sunda Kelapa itulah cikal bakal kota Jakarta sejak bernama Kastil Batavia sampai berkembang ke selatan sampai stasiun Kota, Glodok, Harmoni sampai pula ke sekitar Lapangan Medan Merdeka, Monas.
Pemandu wisata, Sukma, yang selama ini tinggal di museum, juga tak kuasa menolak pengunjung yang datang sudah melewati waktu dan harus tutup pukul 15.00 WIB. Diantarlah mereka ke bagian museum yang masih bisa bercerita tentang kebaharian sekalipun hanya melihat dari luar. Bahkan, di luar kita bisa menyentuh jangkar dan meriam-meriam kuno saksi sejarah masa lalu. (tim)
Gedung tersebut dahulunya adalah gudang rempah-rempah VOC Belanda. Menurut cerita para nelayan di sekitar Pasar Ikan, Penjaringan dan Pelabuhan Sunda Kelapa, dahulu di lingkungan pergudangan tersebut ada seorang gadis yang cantik bernama Emma, putri mandor gudang tersebut, seorang Belanda.
Secara diam-diam gadis tersebut menjalin cinta dengan penjaga gudang, seorang pribumi keturunan Ambon bernama Yakob. Namun ketika di Batavia terjangkit wabah penyakit kolera tahun 1780, sang Mandor mengungsikan putrinya ke Pulau Onrust yang lebih aman, karena jauh dari kemungkinan penyebaran wabah dimaksud.
Tapi akhirnya Emma justru meninggal di pulau itu dengan menanggung rindu, dan dimakamkan juga di situ. Sedangkan Yakob juga tidak mampu menahan dukanya. Akhirnya tidak konsentrasi dalam bekerja sehingga dipulangkan ke Ambon. Setelah itu tidak diketahui lagi bagaimana kabarnya.
Karena itu bila nelayan melihat gadis Belanda menampakkan diri baik di pantai maupun di sekitar Museum Bahari, mereka menganggap sedang ditemani Si Emma, gadis berambut pirang yang malang itu. Di Pulau Onrust sendiri juga ada cerita semacam itu. Tidak jarang pemancing melihat gadis Belanda malam hari menampakkan diri di pulau tersebut.
Sukma, pemandu wisata di Museum Bahari mengakui adanya cerita misteri tersebut. “Kalau nelayan-nelayan tua masih percaya itu Pak,” kata Sukma kepada KabarPenjaringan, Kamis (17/5/2012) petang, yang keluarganya juga tinggal di dekat Masjid Luar Batang, tidak jauh dari kawasan Pasar Ikan.
Pengalaman Kru Televisi
Cerita misteri dari Museum Bahari, juga diungkapkan Suprihardjo, wartawan senior yang banyak menulis masalah wisata. Setengah tahun yang lalu, katanya, juga ada kru televisi swasta meliput cerita sejarah Museum Bahari dan kehidupan di sekitarnya. Inilah cerita Pak Pri, panggilan akrab Suprihardjo.
“Ketika memasuki gedung C yang didirikan tahun 1779 itu, terjadi keanehan. Gian, pembawa acara stasiun televisi tersebut, tiba-tiba meninggalkan pembicaraan bersama beberapa orang dan berjalan sendiri menuju salah satu ruangan,” kata Pak Pri, mantan jurnalis dari Harian Berita Buana ini, mulai bercerita.
Ketika kembali, ia menuturkan baru saja menemui orang yang memanggilnya. Kemudian mengecek kepada Sukma, apakah di sini ada penghuni seorang gadis Belanda? Tentu saja dijawab tidak. Yang ada hanya kucing beranak-pianak di situ. Kontan Gian jatuh pingsan. Baru setelah semuanya berlalu, Sukma baru berani mengungkapkan adanya cerita misteri tersebut. Termasuk kepada seluruh kru televisi yang meliputnya.
“Boleh percaya boleh tidak. Soal kebenaran cerita itu, wallahu a’lam bissawab, hanya Allah yang mengetahui di balik rahasia cerita itu,” kata Suprihardjo, yang sekarang lebih memilih sebagai wartawan penulis free lance ini.
1.500 Pengunjung Setiap Bulan
Berapa sebenarnya jumlah pengunjung Museum Bahari? Tidak menentu. Namun kata Kepala Subbag TU, Irfal Guci, rata-rata per bulan antara 1000 sampai 1500 orang. Pada musim liburan seperti sekarang ini, bisa mencapai 3000 sampai 5000. Namun pada waktu sepi, misalnya musim tahun ajaran baru bulan Agustus, kurang dari 1000 orang sebulan. Di museum bahari banyak ditemukan orang berkeliling mengendarai sepeda.
Mereka itu adalah pengunjung Museum Bahari juga. Ada yang naik sepeda onthel berombongan dua atau tiga orang. Ternyata mereka itu di pandu oleh pemilik sepeda yang menyewakan kendaraannya kepada wisatawan yang berkunjung ke Taman Fatahillah, Kota Tua. Pemilik usaha sepeda itu sendiri, memiliki paket wisata sepeda yaitu Museum Wayang, Pelabuhan Sunda Kelapa, Masjid Keramat Luar Batang, Museum Bahari dan Menara “Miring” Syahbandar.
Karena itu, orang-orang Museum Bahari mengakui persewaan sepeda onthel memiliki andil dalam memasyarakatkan keberadaan museum kepada pengunjung Taman Fatahillah dan Museum Sejarah Jakarta. Apalagi sejatinya kawasan Museum Bahari dan Sunda Kelapa itulah cikal bakal kota Jakarta sejak bernama Kastil Batavia sampai berkembang ke selatan sampai stasiun Kota, Glodok, Harmoni sampai pula ke sekitar Lapangan Medan Merdeka, Monas.
Pemandu wisata, Sukma, yang selama ini tinggal di museum, juga tak kuasa menolak pengunjung yang datang sudah melewati waktu dan harus tutup pukul 15.00 WIB. Diantarlah mereka ke bagian museum yang masih bisa bercerita tentang kebaharian sekalipun hanya melihat dari luar. Bahkan, di luar kita bisa menyentuh jangkar dan meriam-meriam kuno saksi sejarah masa lalu. (tim)
Langganan:
Postingan
(
Atom
)







